Berita  

Prediksi Mbah Bejo: Saat Politisi Merah Mulai Belajar Terbang

KOTA SEMARANG akhir-akhir ini terasa seperti panggung wayang kulit yang lampunya tiba-tiba kedip-kedip. Warga sibuk urus banjir, longsor, dan macet, sementara di balik layar, skenario politik mulai menyusun plot baru yang bikin wartawan lokal siap menulis headline berita.

Satu atau dua bulan ke depan, kota ini berpotensi disuguhi drama perpindahan politik yang halus tapi mengguncang: pejabat publik dengan posisi cukup strategis, tampaknya siap ganti kostum.

Dari partai berwarna merah yang sudah jadi rumahnya, ia dikabarkan melirik partai dengan simbol burung, atau bahkan mungkin ke partai warna hijau. Bukan karena angin musim, tapi karena kalkulasi yang sangat manusiawi.

Kota Semarang memang tak pernah kehabisan cerita soal loyalitas dan kesetiaan. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti baru saja memimpin dengan latar belakang kuat di PDIP, partai yang identik dengan warna merah dan semangat perjuangan.

Tapi di level bawah, dinamika lain bergerak. Pejabat yang kita bicarakan ini bukan orang sembarangan. Ia punya jaringan birokrasi, dan kenalan yang cukup luas. Dulu ia naik jabatan lewat jalur birokrasi yang rapi. Sekarang, katanya, ia merasa butuh “udara baru”. Partai dengan simbol kepala burung, dengan sayapnya yang lebar, tampak menjanjikan angin segar itu. Namun partai dengan warna hijau, senter terdengar juga siap menampung.

Ini bukan sekadar pindah rumah. Ini seperti karyawan kantor yang tiba-tiba sadar kalau gaji tetap, tapi bonus karier politik bisa lebih menggiurkan di tempat lain. Atau, di tempat baru dia merasa akan ada aktualisasi syahwat politiknya yang lebih luas.

Dalam satu hingga dua bulan mendatang, diprediksi pemberitaan bakal ramai. Media lokal bakal sibuk buru-buru konfirmasi, foto-foto pertemuan tertutup bakal bocor ke grup WhatsApp, dan juru bicara partai lama maupun baru akan saling lempar pernyataan yang penuh makna ganda.

Yang lama bilang “kami tetap solid”, yang baru bilang “pintu terbuka lebar untuk talenta terbaik”.

Semarang sebagai ibu kota Jawa Tengah punya posisi yang unik. Dekat dengan pusat kekuasaan provinsi, dekat pula dengan dinamika nasional. Pejabat strategis di sini bukan cuma mengurus urusan birokrasi, tapi juga bisa jadi modal politik untuk pilkada atau pileg berikutnya.

Kalau tokoh ini benar pindah, dampaknya bisa menyebar: kader di bawahnya ikut gelisah, alokasi anggaran dikhawatirkan bergeser, dan warga biasa cuma geleng-geleng kepala sambil bilang, “Lha, kok gitu to?”

Humornya ada di situ. Politik selalu mengklaim demi rakyat, tapi rakyat jarang diajak diskusi sebelum keputusan diambil.

Tak hanya soal satu orang, kota ini juga punya potensi drama lain. Sementara partai besar seperti yang berwarna merah sedang menjaga soliditas pasca-pilkada. Di balik itu, isu perpindahan banyak kadernya terus mencuat di informasi bawah tanah.

Transisi antar-bulan ini terasa lambat tapi penuh antisipasi. Bulan Mei-Juni 2026, Semarang bakal jadi ladang spekulasi. Kopi warung di sekitar Tugu Muda pasti panas membahas siapa yang bakal ikut pindah, berapa orang, dan apa dampaknya.

Ada yang bilang ini langkah cerdas untuk “menyeimbangkan kekuatan”. Ada pula yang nyeletuk, “Dari merah ke burung, tinggal nunggu yang hijau atau gajah datang tawarin.” Semua dibungkus tawa, karena kalau politik tak lucu, kita bakal menangis.

Warga Semarang punya cara sendiri menghadapi drama elite: santai tapi waspada.

Mereka tahu, siapa pun yang memakai simbol burung, gajah, banteng, atau simbol dan warna lain, yang penting lampu lalu lintas tetap hijau, trotoar tak bolong, dan air bersih mengalir.

Kalau sang tokoh benar pindah, semoga ia membawa semangat baru yang tak cuma terlihat di spanduk.

Semarang tetap hangat di musim kemarau. Politiknya seperti tarian tradisional: gerakannya halus, tapi kadang membuat penonton geleng-geleng sambil tepuk tangan. Siapa tahu, dua bulan lagi kita dapat tontonan baru yang lebih seru. Atau setidaknya, bahan obrolan yang enak di warung kopi.(Penulis merupakan pengelola Instagram @bupati_blambangan)