JAVANEWS.ID – Sektor penyediaan akomodasi serta makan-minum, khususnya hotel dan restoran, terbukti menjadi motor penggerak ekonomi Jawa Tengah. Kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terus meningkat, dari 3,41 persen pada 2023 menjadi 3,74 persen pada 2025.
Melihat tren positif tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya peran Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dalam mendukung pengembangan pariwisata daerah.
“Investasi di sektor hotel dan restoran harus tumbuh menjadi sektor unggulan yang berjalan seiring dengan pembangunan pariwisata,” ujarnya saat membuka Rakornas I PHRI di Hotel PO Semarang, Selasa 10 Februari 2026.
Jawa Tengah memiliki lebih dari 1.000 desa wisata di 35 kabupaten/kota. Pemprov juga mendorong destinasi baru berbasis wisata ramah muslim, yang menuntut jaminan kehalalan produk makanan dan minuman.
Selain itu, konsep aglomerasi wisata tengah dikembangkan untuk menghubungkan destinasi unggulan seperti Borobudur, Kopeng, dan Rawa Pening, sehingga meningkatkan pergerakan wisatawan dan okupansi hotel.
Keberhasilan program Soloraya Great Sale 2025 menjadi contoh nyata. Dalam satu bulan, tujuh kabupaten/kota mencatat transaksi lintas sektor Rp 10,7 triliun dan okupansi hotel penuh.
“Model kolaborasi seperti ini bisa jadi referensi pembangunan ekonomi nasional berbasis pariwisata,” kata Luthfi.
Rakornas PHRI turut dihadiri Menteri Pariwisata Widiyanti Wardhana, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya, Ketua Kadin, serta tokoh nasional lainnya.
Menparekraf Widiyanti menegaskan, sektor akomodasi dan makan-minum mencatat laju pertumbuhan 7,41 persen pada 2025, dengan kontribusi 0,24 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami optimistis kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional akan terus meningkat. Apresiasi kami sampaikan kepada pelaku usaha hotel dan restoran yang konsisten mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya.












