JAVANEWS.ID – Di balik tenda pengungsian Kecamatan Pulosari, Pemalang, suasana yang biasanya muram perlahan berubah menjadi riang.
Jumat siang 30 Januari 2026, anak-anak korban banjir dan longsor tampak berlarian, bernyanyi, hingga menonton film animasi bersama.
Senyum mereka seolah menjadi tanda bahwa luka batin mulai terobati.
Kehangatan semakin terasa ketika Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi datang menyapa.
Candaan ringan dari orang nomor satu di Jawa Tengah itu disambut tawa renyah, menciptakan momen yang menenangkan di tengah ketidakpastian hidup di pengungsian.
Meski begitu, petugas trauma healing mengakui sebagian anak masih dihantui rasa takut.
“Biasanya muncul saat malam atau ketika hujan turun. Mereka khawatir bencana datang lagi,” kata Lisna, salah satu pendamping.
Pendampingan psikososial ini digelar rutin oleh DP3AP2KB Jateng. Aktivitas bermain, melukis, hingga konseling menjadi cara sederhana untuk mengembalikan rasa aman.
Bagi para ibu, kegiatan ringan seperti membantu dapur umum atau berbincang bersama juga menjadi terapi agar tidak larut dalam kecemasan.
“Trauma healing bukan sekadar hiburan. Ini cara agar anak-anak bisa kembali bersekolah dengan semangat, dan ibu-ibu tetap produktif meski di pengungsian,” tegas Gubernur Ahmad Luthfi.
Tak hanya di Pemalang, layanan serupa juga digelar di Purbalingga. Pemerintah memastikan pemulihan pascabencana dilakukan secara menyeluruh: dari logistik, hunian, hingga kesehatan mental.












