Berita  

Trauma Healing, Anak-anak Korban Banjir Pekalongan Dapat Buku Baru dari Bunda PAUD

Anak-anak pengungsi banjir Pekalongan mengikuti kegiatan trauma healing (foto: Pemprov Jateng)
Anak-anak pengungsi banjir Pekalongan mengikuti kegiatan trauma healing (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID – Di tengah suasana pengungsian yang penuh keterbatasan, Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat berubah menjadi ruang penuh tawa.

Sebanyak 83 anak terdampak banjir diajak bermain, bernyanyi, dan menggambar dalam kegiatan trauma healing yang digelar Pokja Bunda PAUD Jawa Tengah, Senin 19 Januari 2025.

Kegiatan pemulihan psikologis ini menjadi upaya menghadirkan rasa aman dan bahagia bagi anak-anak yang harus meninggalkan rumah mereka akibat banjir.

Nawal Arafah Yasin, Bunda PAUD Jateng sekaligus Ketua TP PKK Jateng, hadir langsung mendampingi anak-anak, berinteraksi, dan memantau jalannya aktivitas.

Didampingi Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, Nawal juga menyerahkan bantuan berupa buku dan perlengkapan sekolah.

“Kegiatan ini adalah kolaborasi PKK Kota Pekalongan, Pokja Bunda PAUD Jateng, dan IGTKI. Kami ingin anak-anak tetap ceria meski berada di pengungsian,” ujarnya.

Menurut Nawal, trauma healing penting agar anak-anak tidak mengalami gangguan mental pascabencana.

Aktivitas seperti bermain bersama, bercerita, dan menggambar diharapkan mampu mengurangi rasa takut sekaligus mempersiapkan mental mereka kembali ke sekolah.

Selain itu, Nawal mengimbau warga terdampak banjir untuk tetap tenang dan waspada terhadap cuaca ekstrem. Ia memastikan Pemprov Jateng di bawah arahan Gubernur Ahmad Luthfi telah menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan pokok.

“Harapannya bisa bersabar sampai air surut. Bagi yang masih di pengungsian, logistik tetap kami pastikan terpenuhi,” katanya.

Suasana hangat kegiatan ini dirasakan langsung oleh Rizkiya, siswi kelas 9 SMPN 4 Pekalongan.

“Saya senang karena bisa bermain dengan banyak teman, jadi tidak bosan. Buku tulis yang saya terima juga bisa mengganti yang basah kena banjir,” tuturnya.

Dengan dukungan relawan dan pemerintah, anak-anak di pengungsian diharapkan dapat berangsur pulih secara emosional, sehingga kembali menjalani keseharian tanpa bayangan trauma banjir.