JAVANEWS.ID – KALAU dunia medis punya parasetamol sebagai obat segala umat, masyarakat desa punya sesuatu yang dianggap jauh lebih sakti, multifungsi, dan murah meriah, yaitu teh hangat.
Jangan remehkan air berwarna cokelat transparan ini. Di tangan warga desa, teh hangat bukan sekadar minuman, ia adalah instrumen diplomasi, alat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), hingga syarat sah sebuah kerumunan.
Mari kita mulai dari fungsi medisnya yang ajaib. Di desa, kalau kamu jatuh dari motor dan lukanya “cuma” lecet atau memar, jangan harap langsung dibawa ke Puskesmas.
Prosedur standarnya adalah dipapah ke teras rumah warga terdekat, didudukkan, lalu kalimat pertama yang muncul bukan “Cek tulangnya ada yang patah?” melainkan, “Ngunjuk teh anget riyin, Mas (Minum teh hangat dulu, Mas).”
Entah apa korelasinya secara ilmiah antara luka parut di lutut dengan glukosa dalam teh. Tapi ajaibnya, setelah memegang gelas yang panasnya pas di telapak tangan, syok karena jatuh tadi seolah luruh.
Teh hangat di sini seolah berfungsi sebagai obat penenang yang lebih ampuh dari diazepam. Luka boleh berdarah, tapi kerongkongan harus tetap manis dan hangat.
Bergeser ke urusan sosial, teh hangat adalah “bahan bakar” utama dalam setiap perhelatan.
Sebuah kondangan atau tahlilan tanpa kehadiran teh hangat. Rasanya seperti makan sayur tanpa garam, atau seperti nonton konser tapi tanpa sound system.
Dalam acara tahlilan, teh hangat adalah teman setia yang menjaga mata bapak-bapak tetap melek saat pembacaan doa mencapai puncaknya.
Uniknya, di desa ada aturan tidak tertulis mengenai kasta rasa teh. Teh kondangan biasanya punya spektrum rasa yang ajaib; kalau tidak kemanisan sampai level diabetes, ya hambar karena jumlah airnya lebih banyak dari jumlah daun tehnya.
Tapi anehnya, tak ada yang protes. Mereka tetap menyeruputnya sambil berdiskusi soal harga pupuk atau gosip tetangga sebelah.
Teh hangat juga menjadi simbol sambutan paling tulus. Tuan rumah sering kali sibuk di dapur sesaat setelah menyambut disusul denting sendok beradu dengan gelas kaca.
Tamu baru boleh pulang kalau teh itu sudah mendingin atau sudah habis setengah. Menyisakan teh hangat yang masih mengepul adalah bentuk penghinaan halus terhadap keramahan tuan rumah.
Bagi masyarakat desa, teh hangat adalah jawaban atas segala ketidakpastian. Musim hujan? Minum teh hangat. Musim kemarau tapi gerah? Minum teh hangat biar keringatnya keluar.
Sedang pusing memikirkan cicilan bank? Tenangkan pikiran dengan teh hangat.
Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa teh hangat adalah perekat sosial yang paling murah. Ia tidak butuh biji kopi yang harus difermentasi di perut luwak, tidak perlu teknik manual brew yang ribet, dan tidak butuh latte art di atasnya. Cukup teh tubruk yang aromanya “nasgithel” (panas, legi, kenthel), maka kerukunan antar warga pun terjamin.












