JAVANEWS.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banjarnegara diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal.
Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diminta memanfaatkan produk pertanian dan peternakan daerah sebagai bahan menu harian.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKP) Banjarnegara, Firman Sapta Adi dalam pertemuan dengan para Kepala SPPG dan Yayasan Pengampu SPPG di Aula Abdi Praja Setda Banjarnegara, Senin 2 Februari 2026.
“MBG bukan hanya masalah gizi, tapi tentang ekonomi. Kita adalah produsen salak terbesar, kita punya kentang dan ikan. Jangan sampai potensi ini justru hancur harganya karena tidak terserap oleh program di rumah sendiri,” tegas Firman.
Banjarnegara memiliki stok melimpah yang siap menyuplai kebutuhan menu MBG, antara lain beras dan gabah dengan produksi 176.000 ton per tahun, kentang 139.000 ton per tahun, telur ayam 27 ton per hari, serta ikan air tawar sebagai sumber protein. Perputaran uang untuk bahan baku MBG diperkirakan mencapai Rp1,4 miliar per hari.
Kepala Dinperindagkop UKM Banjarnegara, Adi Cahyono PS, menekankan pentingnya manajemen menu agar tidak terjadi lonjakan harga di pasar.
“Jika seluruh SPPG memasak menu telur di hari yang sama, stok bisa ludes dan harga melonjak. Karena itu perlu manajemen waktu dan substitusi komoditas,” jelasnya.
Adi juga mendorong agar yayasan bekerja sama dengan koperasi atau Bumdes sebagai mitra resmi penyedia bahan baku, demi memastikan legalitas dan keberlanjutan ekonomi desa.
Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Tengah Wilayah SPPG, Reza Mahendra, menambahkan bahwa mulai tahun ini akan ada audit kepatuhan dari inspektorat.
Transparansi harga dan laporan keuangan menjadi krusial. Satgas MBG kini diperkuat hingga tingkat kecamatan, dengan pemantauan aktif di 71 titik SPPG dan target pengembangan hingga 90 lokasi ke depan.
Dengan strategi ini, Program MBG di Banjarnegara diharapkan mampu menghadirkan gizi seimbang sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan produk lokal.












