Berita  

Penangkapan Nicolas Maduro: Arogansi Paman Sam yang Mengaku Polisi Dunia

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, salah satu korban arogansi AS, Negeri Paman Sam itu mengangkat dirinya sebagai Polisi Dunia tanpa mandat gloal. (Foto Kreasi AI)
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, salah satu korban arogansi AS, Negeri Paman Sam itu mengangkat dirinya sebagai Polisi Dunia tanpa mandat gloal. (Foto Kreasi AI)

JAVANEWS.ID– Akhir Desember lalu, tepatnya 3 Januari 2026, warga dunia dikejutkan oleh serangan besar-besaran pasukan Amerika Serikat (AS), Delta Force ke ibukota Venezuale, Caracas. Sebenarnya, siapa pun yang mengkuti konstelasi politik di kawasan Amerika Latin/Selatan, apa yang dilakukan pasukan khusus AS alias Paman Sam, itu sama sekali tak mengejutkan. Pasalnya Presiden AS, Donald Trump sudah berbulan-bulan sebelum serangan itu sudah memerintahkan armada Angkatan Laut AS menuju kawasan itu, untuk apalagi jika bukan persiapan untuk penyerbuan.

Yang justru mengejutkan adalah begitu mudahnya Nicolas Maduro, sang presiden Venezuela, ditangkap. Lebih mengejutkan lagi adalah perilaku pasukan AS itu sendiri, yakni menangkap seorang presiden negara lain yang sedang berada di negaranya sendiri. Karena itu, peristiwa ini menegaskan predikat AS sebagai Polisi Dunia, sebuah predikat yang dibuat sendiri oleh AS, dan disandangkan sendiri pula.

Penangkapan Maduro itu mengingatkan dunia, bahwa yang bisa menangkap seorang presiden atau kepala negara bukan PBB, tidak juga Mahkamah Kriminal Internasional (ICC), melainkan AS negara yang sejak lama merasa dirinya berwenang menjaga ketertiban di muka bumi ini.

Seperti dilansir sejumlah media massa internasional, setelah ditangkap di kediamannya, Maduro dan istrinya diterbangkan ke New York untuk ditahan. Ia muncul di pengadilan federal Manhattan, menghadapi dakwaan pidana termasuk terorisme narkoba dan konspirasi impor narkotika. Maduro sebelum ditangkap sudah berulang kali membantah tuduhan itu.

Penangkapan itu lebih dari sekadar dakwaan atau aksi fisik nyata yang dilaksanakan oleh militer AS, dan bukan sekadar proses hukum administrasi di tingkat dokumen. Karena itu peristiwa ini jauh lebih luar biasa dan kontroversial dibandingkan hanya “ditetapkan sebagai buronan” oleh pengadilan internasional (ICC) seperti yang sering terjadi sebelumnya.

Masyarakat dunia sudah mafhum, bahwa AS telah lama berdiri tegap mengaku sebagai polisi. Dalam melakukan tindakannya, berbagai alasan digunakan. Misalnya menegakkan demokrasi, HAM, perang melawan narkoba. Laiknya polisi, sebelum melakukan aksi AS biasanya memberi peringatan kepada target sasaran. Dan segera melakukan aksi jika peringatan yang diberikan tak digubris, dan itulah yang terjadi dengan Maduro di Venezuela, atau Noriega di Panama, dan beberapa lainnya. Karena sudah sering melakukan, maka ketika Maduro ditangkap, para pemimpin dunia pun diam.

AS bukan polisi biasa. Negara ini menulis undang-undangnya sendiri, memilih tersangkanya sendiri, dan menggelar sidangnya di halaman rumahnya sendiri. Dan dengan ucapan bahwa apa yang dilakukan itu demi ketertiba global, maka seluruh jagat diminta percaya.

Menariknya, di tengah kejemawaan AS sebagai polisi dunia, dua negara adidaya lain yakni China dan Rusia juga ikutan diam, dan hanya jadi penonton di pinggir panggung. Rusia dan China memang tak merasa apalagi mendeklarasikan diri sebagai polisi dunia. Dalam panggung dunia, China lebih suka membawa berlembar-lembar kertas kontrak dibanding borgol. Jika Amerika datang dengan kapal induk, China datang dengan proyek infrastruktur. Negara Tirai Bambu itu tak suka banyak ceramah soal demokrasi, tapi lebih banyak tabel investasi. Meski tak menyebut diri polisi dunia, tetapi pelan-pelan China membangun pos jaga ekonomi di mana-mana.

Rusia meski bersikap sebagai penonton, namun bukanlah penonton yang lugu. Rusia jarang bicara moral, lebih sering bicara pengaruh. Ketika AS dengan pede menegakkan hukum versi global, Rusia mengingatkan bahwa hukum juga punya versi lain yakni versi yang ditulis sejarah, senjata, dan wilayah pengaruh.

Menariknya, ketiganya sama-sama tidak benar-benar netral. Hanya gaya mereka yang berbeda. AS menamainya penegakan hukum. China menyebutnya kerja sama. Rusia menganggapnya urusan keamanan. Tetapi di balik istilah yang rapi, kepentingannya sama: siapa menguasai apa, dan sampai di mana pengaruh bisa ditanam.

Polisi dalam pengertian sederhana, seharusnya tunduk pada hukum bersama. Polisi dunia versi ini justru sering berjalan sendirian, sambil membawa buku hukum yang ditulis dengan tinta nasionalnya sendiri. Jika China dan Rusia tak mau mengaku polisi, bisa jadi mereka tahu bahwa polisi harus siap dipertanyakan.  Nah, di titik itulah AS berbeda. Paman Sam sudah sangat lama melewati fase itu. AS tak lagi sibuk mencari legitimasi, cukup memastikan kamera menyala dan narasi terkendali. Tak peduli apakah dunia setuju atau tidak, yang penting target sasaran mereka ditangkap dan diborgol untuk diadili di AS.

Jadi harap maklum, saat ini, dan entah kapan berakhir, ketertiban dunia dijaga oleh satu polisi, yakni AS dengan kekuatan militer supernya. Targetnya sudah pasti negara yang tak sejalan dengan prinsip atau undang-undang AS. Ketika AS berpatroli, dunia bertanya-tanya, apakah ketertiban global memang harus dijaga oleh satu polisi saja?

Yang pasti dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, AS kembali menegaskan diri sebagai Polisi Dunia meski tanpa mandat global. Sayangnya, dengan predikat tanpa mandat itu,  AS sngat ramah kepada sekutu, dan keras bagai karang saat berhadapan dengan bukan sekutu.  Pada titik inilah, Hukum Internasional berubah menjadi menu à la carte, alias bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan atau selera pemegangnya. Presiden Venezuela ditangkap, diadili dengan penuh semangat moralalitas, sementara pelanggaran di belahan dunia lain sering ditangani dengan penuh tata krama dan sopan santun. Seperti disinggung di atas, sebagai negara yang mengaku-ngaku Polisi Dunia, AS adalah pembuat aturan, penafsir aturan, dan eksekutor aturan. Tapi apa mau dikata, itulah Paman Sam. (*)

*Fikri BumantaraEditor Javanews.id