SEMARANG, JAVANEWS.ID– Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng baru saja meresmikan pasar Ikan Rejomulyo. Setelah direvitalisasi, pasar yang juga beken dengan sebutan Pasar Kobong memiliki fasilitas bukan hanya layak tetapi modern dan higienis. Proses pembangunannya memakan waktu sekitar tiga tahun, dimulai dari perencanaan, pengajuan hingga pembangunan fisik. Yang menarik, kabarnya, para pedagang dilibatkan dalam perencanaan agar fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pasar ikan Rejomulyo yang berlokasi di Kecamatan Semarang Timur, ini memiliki sejarah panjang, dan berkelindan dengan sejarah Kota Semarang itu sendiri. Ia berawal dari perkembangan kota Semarang sebagai kota pelabuhan. Awalnya, pada dekade 1960–1970-an, aktivitas perdagangan ikan masih tersebar di beberapa titik, termasuk di kawasan Bubakan dan di jalan Sayangan. Seiring meningkatnya pasokan ikan dari pesisir utara Jawa seperti Demak, Kendal, hingga Rembang, pemerintah kota kemudian memusatkan aktivitas itu ke kawasan Rejomulyo, lokasi saat ini.
Langkah ini penegasan peran Semarang sebagai simpul distribusi hasil laut Jawa Tengah. Rejomulyo tumbuh menjadi pasar grosir ikan. Ia bukan tempat belanja ikan secara eceran untuk kebutuhan rumah tangga, melainkan tempat kulakan bagi pedagang pasar tradisional, rumah makan, hotel, hingga industri pengolahan.
Pasar ikan ini berbeda dengan pasar tradisional lain yang menjalankan aktvitasnya pada siang hari. Aktivitas puncak di Pasar Rejomulyo justru terjadi tengah malam hingga subuh. Deretan pick-up berpelat luar kota datang silih berganti. Ikan laut segar dari TPI, ikan tawar dari kolam-kolam budiaya di sejumlah daerah diturunkan, ditimbang, dan langsung berpindah tangan.
Dalam satu malam, perputaran uang yang terjadi bisa mencapai ratusan juta, bahkan bisa miliaran rupiah. Namun sebelum direnovasi dan direvitalisasi, pasar ini identik dengan lapak becek, drainase buruk, bau menyengat, dan bangunan yang menua. Tapi, justru dari pasar yang kumuh, rantai pasokan pangan ditopang. Beruntung, Pemkot Semarang tergerak untuk melakukan revitalisasi. Kini pasar Rejomulyo tertata modern dengan los rapi, sistem sanitasi lebih baik, dan fasilitas bongkar muat yang juga lebih baik.
Pasar Ikan Rejomulyo adalah cermin wajah ekonomi rakyat Kota Semarang. Di sana terlihat jelas perjuangan yang keras para pedagang, yang berbaur bau amis, dan bising, sekaligus kejujuran. Pasar itu menyatukan nelayan pesisir, pedagang perantara, buruh angkut, hingga pedagang kecil di pasar-pasar kampung.
Di tengah jargon modernisasi kota, pasar ikan Rejomulyo mengingatkan bahwa kota tumbuh bukan hanya dari mal dan kafe, tetapi dari pasar-pasar basah yang bekerja saat penghuni kota tidur. Sejarah Rejomulyo adalah sejarah tentang bagaimana kebutuhan paling dasar manusia, yakni makan, menopang peradaban kota. Modernisasi boleh datang, bangunan boleh berganti. Tapi ruh Pasar Ikan Rejomulyo seharusnya tetap sama: ruang hidup ekonomi rakyat, bukan sekadar proyek fisik. (*)
–Fikri Bumantara – Editor Javanews.id












