JAVANEWS.ID-JIKA saat ini sedang musim durian, belum tentu pas dengan pepatah populer yang berbunyi,’’bagai mendapat durian runtuh’’. Durian yang saat ini menebar harum di berbagai kota dan daerah di Indonesia karena memang sedang musim. Tetapi jangan salah meski bertepatan dengan musim, kedatangannya bisa bermakna melampaui kalender. Sebab, durian bukan sekadar buah yang matang oleh hujan dan panas, melainkan cermin cara manusia memaknai alam, kebersamaan, dan selera.
Di Indonesia, durian tidak hidup dalam satu kebudayaan tunggal. Di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra, perayaan panen durian dilakukan dengan cara berbeda. Lihat saja, di daerah itu durian tak sekadar dinikmati langsung tetapi juga diolah menjadi jenang, lempok, dan tempoyak. Dan dari sanalah kita belajar bahwa kebudayaan sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tampak sederhana.
Musim durian bukan peristiwa gaduh, melainkan ritus sunyi. Cara menikmati durian di Jawa mencerminkan etika sosial yang halus. Buah dibuka bersama, isinya dibagi rata. Olahan durian bukan untuk mengubah rasa secara ekstrem, melainkan memperpanjang musim. Dodol durian, jenang durian, atau lempok dibuat agar rasa manis legit itu dapat dinikmati berbulan-bulan setelah panen berakhir. Olahan menjadi bentuk pengelolaan kesabaran karena durian tidak dihabiskan sekaligus, tetapi disimpan, dibagi, dan dihadiahkan.
Sumatra durian menawarkan lanskap budaya yang berbeda. Di sana, durian lebih terbuka pada hiruk-pikuk. Lapau durian, pondok di pinggir jalan, atau kebun yang ramai pembeli menjadi panggung sosial. Orang datang dan pergi, saling berdebat soal rasa, membandingkan pohon, kebun, bahkan musim. Tidak perlu saling kenal untuk duduk semeja, dan durian menjadi bahasa bersama.
Jika di Jawa durian ditunggu, di Sumatra durian dicari. Masuk kebun, menyusuri hutan, atau berburu varietas tertentu adalah bagian dari pengalaman. Selera pun lebih berani. Rasa pahit, aroma tajam, bahkan sensasi fermentasi alami justru dipuja. Dari sinilah lahir tempoyak (durian yang difermentasi) yang bukan sekadar makanan, melainkan penanda identitas. Tempoyak biasanya dimasak dengan ikan, sambal, atau sayur, menjadi bukti bahwa durian di Sumatra tidak hanya dimakan, tetapi diolah untuk bernegosiasi dengan waktu dan rasa.
Olahan durian di Sumatra bersifat fungsional dan ekspresif. Ia menjawab kebutuhan hidup yang dinamis, Panen raya durian yang melimpah diolah agar awet, kuat rasa, dan mudah dibawa. Di meja makan sangat mungkin tempoyak menjadi diskusi hangat, karena tidak semua orang menyukainya. Namun jangan salah tempoyak sangat dihargai dan dihormati. Pada titik ini, durian mempertegas watak budaya berani, terbuka, dan tak takut berbeda.
Perbedaan yang dimaksud bukan soal benar atau salah, melainkan cara pandang terhadap hidup. Jawa, dengan tradisi agraris yang panjang, menempatkan durian dan olahannya sebagai bagian dari keteraturan sosial, ada waktu, aturan, kesopanan. Di Sumatra, dengan sejarah mobilitas dan perdagangan yang kuat, menjadikan durian segar maupun olahan sebagai ruang ekspresi dari fleksibelitas, berlapis rasa, dan egaliter.
Di era modern, durian dan olahannya mengalami transformasi baru. Pancake durian, es krim durian, hingga kopi durian muncul di kota-kota besar. Sebagian melihatnya sebagai komersialisasi, sebagian lain sebagai adaptasi. Namun pola lama tetap bertahan. Di desa Jawa masih ditemui dodol durian dibungkus kertas minyak dan dibagi ke tetangga. Di Sumatra, tempoyak masih dimasak bersama dan dimakan beramai-ramai. Modernisasi mengubah bentuk, tetapi tidak sepenuhnya menggeser makna.
Diakui atau tidak, durian segar maupun olahan mengajarkan bahwa kebudayaan Indonesia tidak selalu lahir dari upacara besar atau simbol resmi. Ia tumbuh dari dapur, kebun, atau cara orang mengawetkan rasa dan membaginya dengan sesama. Dari Jawa hingga Sumatra, durian memperlihatkan wajah Indonesia yang beragam, mulai yang tenang, riuh, manis sekaligus tajam, juga sederhana, dan kompleks.
Maka jadilah durian bukan hanya soal bau atau rasa. Tapi cermin dari cara kita berhubungan dengan alam, waktu, dan orang lain. Dari buah yang sama, diolah dengan cara berbeda untuk tujuan serupa yakni merawat kebersamaan. Di situlah durian menjadi ciri paling Indonesia, yakni keras di luar, kaya di dalam, dan selalu lebih bermakna ketika dinikmati bersama, baik sebagai buah segar, dodol, atau tempoyak. (*)Fikri Bumantara – Editor Javanews.id












