Berita  

Konferda PDIP Jateng yang Bikin Jawa Tengah “Agak Panas”

Konferda PDIP Jateng (AI Generated)
Konferda PDIP Jateng (AI Generated)

JAVANEWS.ID – DI tengah hiruk-pikuk akhir tahun, saat orang biasa sibuk hitung untung rugi belanja Natal, dunia politik Jawa Tengah tiba-tiba berubah jadi panggung pertunjukan, dengan aktor PDI Perjuangan. Bocoran surat dari Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan, yang entah bagaimana lolos ke lini masa seperti bocah nakal yang kabur dari kelas, mengumumkan rencana Konferensi Daerah DPD PDI Perjuangan Jateng pada Selasa, 16 Desember 2025.

Lokasinya bukan di gedung megah Semarang atau Solo yang penuh kenangan partai, melainkan di Sekolah PDI Perjuangan, Jalan Lenteng Agung Nomor 99, Jakarta Selatan.

Ya, Jakarta. Kota yang sudah macetnya legendaris, kini tambah ramai dengan urusan daerah tetangga.

Surat itu, yang ditandatangani oleh Sekjen Hasto Kristiyanto dan ditembuskan ke berbagai petinggi, bukan cuma undangan biasa. Ini seperti panggilan darurat dari ibu kota, di mana DPP memerintahkan seluruh pengurus DPD Jateng untuk hadir lengkap.

Yang bikin mata melotot: kenapa cuma Jateng yang “dipanggil” ke Jakarta? Daerah lain seperti Jawa Barat, DIY, atau Jawa Timur, informasinya, tetap Konferda di tanah sendiri. Sementara Jateng, provinsi yang dulu jadi benteng partai banteng, kini pengurusnya harus naik kereta api atau pesawat ke pusat, lengkap dengan biaya tambahan yang bisa dipakai beli sate ayam untuk seluruh kader.

Alur cerita ini tak lepas dari tekanan waktu yang lebih ketat dari deadline tugas kuliah. Rencana Rakernas sekaligus HUT PDI Perjuangan pada 10 Januari 2026 menuntut semua kepengurusan daerah rampung sebelum akhir Desember 2025.

Jadi, konferda ini bukan sekadar rapat tahunan, tapi operasi bedah darurat untuk potong anggota yang dianggap sudah kadaluarsa. Saat ini, posisi Ketua DPD Jateng ditempati pelaksana tugas Fx Hadi Rudyatmo, yang menggantikan posisi Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul. Dan seperti biasa dalam politik Indonesia, kursi itu langsung jadi magnet bagi siapa saja yang punya nama besar, atau setidaknya punya cerita menarik untuk diceritakan oleh kader partai.

Masuklah dua figur yang bikin suasana panas seperti musim kemarau di Wonogiri. Pertama, Fx Hadi Rudyatmo, orang Solo yang dulu jadi Wali Kota dan kini Plt Ketua DPD Jateng. Rudy, dengan pengalaman panjang di partai, digadang-gadang sebagai pilihan aman. Dukungan dari DPC Solo dan sekitarnya mengalir deras, seolah dia satu-satunya yang paham cara ngurus kader dari pegunungan Dieng sampai pantai Cilacap.

Rudy juga pernah bawa PDIP menang telak di Pilkada Solo. Tapi, di balik senyum ramahnya, ada bisik-bisik bahwa dia seperti mobil tua yang andal: jalan terus, tapi butuh oli ekstra agar tak mogok di tengah jalan tol menuju Rakernas.

Lalu, ada Pinka Hapsari, orang lebih kenal dengan Diah Pikatan Orissa Putri Haprani, putri sulung Puan Maharani. Nama ini muncul seperti kue tart di pesta ulang tahun: manis, mewah, dan langsung curi perhatian. Sebagai anggota DPR RI periode 2024-2029, Pinka bawa angin segar dari generasi muda, lengkap dengan garis keturunan yang bikin iri tetangga sebelah.

Dukungan dari DPC PDIP Kebumen dan sebagian kader urban Semarang bilang dia kandidat ideal untuk bawa PDIP Jateng ke era digital. Persaingan ini tak cuma soal siapa yang pegang mikrofon di konferda, tapi juga soal cerita besar: apakah Jateng butuh pengalaman lapangan atau darah baru dari keluarga berpengaruh?

Belum lagi gosip yang beredar lebih cepat dari virus flu: ada yang bilang konferda ini cuma trik untuk hindari perpecahan kader yang kecewa.

Rudy punya tim yang kuat di Jawa Tengah Tengah, sementara Pinka didukung gelombang muda yang haus perubahan. Tapi, di balik layar, DPP tampaknya sudah punya skenario: konferda di Jakarta berarti kontrol lebih ketat dari pusat, hindari kejutan lokal yang bisa bikin Rakernas tambah pusing.

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto sendiri, dalam pernyataan singkat, cuma bilang ini bagian dari konsolidasi pasca-kongres.

Meski informasi terbaru Konferda dibatalkan atau diundur dari jadwal semula karena ada persoalan internal, para kader PDIP di Jateng tentu membawa harapan dan spekulasi. Apakah Rudy akan naik panggung dengan pidato panjang lebar soal loyalitas dan ideologi, atau Pinka akan curi perhatian dengan visi singkat yang bikin semua tepuk tangan?

Yang pasti, hasilnya harus kelar sebelum libur akhir tahun, agar Rakernas bisa jalan mulus tanpa drama tambahan dengan aktor utama DPD PDIP Jateng.

(Tulisan ini disempurnakan oleh AI)