Berita  

Kartu Zilenial hingga Paralegal Desa, Wajah Baru Layanan di Kecamatan Berdaya

Generasi muda memanfaatkan Kartu Zilenial untuk pelatihan kewirausahaan di Kecamatan Berdaya (foto: Pemprov Jateng)
Generasi muda memanfaatkan Kartu Zilenial untuk pelatihan kewirausahaan di Kecamatan Berdaya (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID – Pembangunan tak selalu hadir lewat gedung megah atau pidato panjang. Di Jawa Tengah, negara memilih menyusuri denyut kehidupan warga lewat program Kecamatan Berdaya, sebuah terobosan yang menjadikan kecamatan bukan sekadar wilayah administratif, melainkan simpul kehidupan masyarakat.

Gubernur Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menegaskan, kecamatan adalah ruang paling dekat dengan warga: tempat mengurus hak, mencari perlindungan, mengembangkan potensi, dan menaruh harapan.

“Kecamatan Berdaya adalah jembatan layanan pemerintah ke 8.490 desa dan 576 kecamatan,” ujar Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Jawa Tengah, Nadi Santoso, Senin 29 Desember 2025.

Sepanjang 2025, sebanyak 142 kecamatan ditetapkan sebagai proyek percontohan. Di wilayah ini, layanan perlindungan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga ruang aktualisasi generasi muda mulai dijalankan secara terintegrasi.

Program ini dibangun di atas empat pilar utama:

  • Perlindungan perempuan dan anak melalui pelatihan kader paralegal di tingkat kecamatan.
  • Pemberdayaan pemuda lewat Kartu Zilenial dan sport center. Hingga akhir 2025, lebih dari 12 ribu milenial dan Gen Z telah memanfaatkan program ini.
  • Perhatian khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas.
  • Penguatan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Pemprov Jateng mengonsolidasikan seluruh OPD agar bergerak dalam satu arah. Pemerintah kabupaten/kota didorong aktif, sementara perguruan tinggi dilibatkan melalui program KKN agar gagasan akademik bertemu langsung dengan realitas sosial.

Target besar pun dipasang: pada 2026 seluruh 576 kecamatan di Jawa Tengah diharapkan berstatus Kecamatan Berdaya.

Kecamatan Berdaya bukan sekadar program, melainkan ikhtiar menghadirkan negara yang lebih dekat, lebih peduli, dan lebih berdaya.

Di Jawa Tengah, negara tak lagi hanya berbicara dari podium, tetapi berjalan menyusuri kecamatan, mengetuk pintu desa, dan menyapa warga dengan layanan nyata.