JAVANEWS.ID – Di balik kandang-kandang kayu sederhana di Desa Plajan dan Suwawal Timur, Kabupaten Jepara, tersimpan kisah ketangguhan warga desa yang menggantungkan hidup pada kambing Jawa Randu.
Bagi mereka, Jawa Randu bukan sekadar komoditas, melainkan sumber harapan, rezeki, sekaligus pengikat kebersamaan.
Sejak 2007, Hadi Purnomo memimpin Kontak Tani Ternak (KTT) Desa Plajan dengan 22 anggota. Tantangan datang setiap musim hujan: pakan terbatas, kesehatan ternak menurun, dan harga jual tak menentu. Namun berkat pendampingan dari DKPP, PPL, hingga BPKH Jawa Tengah, kelompok ini tetap bertahan.
Sistem pemerataan kesejahteraan diterapkan: setiap anggota memelihara dua indukan, sementara hasil anakan disisihkan untuk kas kelompok.
Meski harga melemah, anak jantan empat bulan hanya sekitar Rp1,5 juta, betina tak sampai Rp500 ribu, perawatan tetap dilakukan dengan disiplin.
“Jawa Randu itu dagingnya banyak, harga lebih terjangkau dibanding PE (Peranakan Etawa) yang harganya mahal namun daging lebih sedikit,” ujar Hadi.
Di Desa Suwawal Timur, KTT Ayo Maju 2 di bawah komando Komari menghadapi kendala serupa: penyakit gatal, pilek, batuk, hingga gangguan mata.
Namun dengan pelatihan silase, teknik perawatan, dan penyuntikan, kelompok ini mampu merawat 332 ekor Jawa Randu serta menjaga kas hingga Rp6 juta. Saat harga anjlok, mereka memanfaatkan pemasaran online dan pengepul tetap.
“Kalau anjlok, harga juga ikut anjlok jadi kita jual lewat online karena sudah ada pengepul,” tutur Komari.
Limbah Jadi Berkah
Selain ternak, limbah kambing juga memberi manfaat. Di Plajan, setiap anggota wajib menyetor satu sak limbah per bulan untuk diolah menjadi pupuk organik.
Di Suwawal Timur, limbah difermentasi dengan disinfektan dan tetes tebu selama 21 hari sebelum siap dipakai di sawah anggota. Siklus sederhana ini membuat ternak kembali memberi manfaat bagi tanah dan pertanian desa.
Peran DKPP
Kepala DKPP Jepara, Mudhofir, menegaskan pembinaan dilakukan dari kelembagaan hingga pasca panen. Monitoring rutin dijalankan karena tantangan peternakan muncul setiap saat.
“DKPP juga bersinergi dengan pemerintah pusat dan legislatif agar program benar-benar menyentuh kebutuhan peternak,” katanya.
Standar teknis pun diterapkan: kandang ditinggikan 80 cm, ukuran ideal 2 × 2 meter per ekor, pakan rumput gajah atau fermentasi daun singkong, serta perawatan rutin dengan obat cacing, vitamin, dan vaksin enam bulanan.
Meski harga pasar naik turun, kambing-kambing itu tetap dirawat dengan sepenuh hati.
Dari Plajan hingga Suwawal Timur, kisah ini menunjukkan bahwa ekonomi desa bisa tumbuh dari kandang sederhana, asal dikelola dengan ketekunan dan semangat bersama.












