Berita  

Haul KH Raden Asnawi, Gus Yasin: Spiritualitas Kudus Jadi Inspirasi Pemerintahan Jateng

Wakil Gubernur Jateng Gus Yasin menghadiri haul KH Raden Asnawi ke-68 di Kudus, Senin 15 Desember 2025 (foto: Pemprov Jateng)
Wakil Gubernur Jateng Gus Yasin menghadiri haul KH Raden Asnawi ke-68 di Kudus, Senin 15 Desember 2025 (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin, menghadiri haul ke-68 KH Raden Asnawi di Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Kabupaten Kudus, Senin 15 Desember 2025.

Kehadiran ribuan jamaah dalam acara tersebut menjadi bukti kuat pengaruh besar sang ulama terhadap kehidupan masyarakat Kudus.

Dalam sambutannya, Gus Yasin menilai KH Raden Asnawi sebagai sosok yang mampu membangun peradaban melalui ilmu dan spiritualitas.

“Ternyata membangun sebuah peradaban ini enggak mudah,” ujarnya. Ia menekankan, tidak semua tokoh agama memiliki pengaruh keilmuan yang menyebar luas seperti yang dilakukan KH Raden Asnawi.

“Beliau Almarhum Raden Kyai Haji Asnawi ini luar biasa. Bisa menarik bukan hanya di kalangan pesantren, tetapi juga kalangan dan sendi-sendi kehidupan di Kabupaten Kudus. Ya, tokoh agamanya, tokoh masyarakatnya,” tambahnya.

Menurut Gus Yasin, kehidupan beragama di Kudus kini telah menjadi ciri khas, termasuk penghormatan kepada guru dan ulama. Kudus disebut memiliki magnet tersendiri berkat sanad keilmuan para leluhur yang masih terjaga.

“Kita hadir pada malam hari ini dimulai dari beberapa pekan rangkaian dari kegiatan haul. Itu ya luar biasa, kekhusyukannya, ademnya melihat orang-orang yang hadir itu membawa nur yang luar biasa,” ungkapnya.

Gus Yasin berharap getaran spiritual masyarakat Kudus juga bisa menjadi budaya di lingkup pemerintahan Jawa Tengah.

Ia mencontohkan program ngaos bandongan yang digelar Pemprov Jateng sejak Ramadan lalu, dan kini terus dilanjutkan karena banyak ASN yang merupakan alumni pesantren.

“Alhamdulillah di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejak bulan Ramadan kemarin kita ada program ngaos bandongan. Kita lanjutkan terus, teman-teman ini kangen. Ternyata di pemerintahan itu banyak alumni-alumni pondok pesantren,” jelasnya.

Selain itu, Pemprov Jateng juga menerapkan kebijakan pemakaian seragam dengan bawahan sarung batik atau lurik setiap Jumat. Kebijakan ini tidak hanya mengangkat nilai budaya, tetapi juga mendukung ekonomi UMKM batik di Jawa Tengah.