JAVANEWS.ID – Gerakan literasi di Jawa Tengah terus digencarkan. Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan target strategis agar setiap desa dan kelurahan memiliki satu perpustakaan sebagai pusat gerakan membaca masyarakat.
Dalam Rapat Koordinasi Bunda Literasi Jawa Tengah 2026 bertema “Sinergi Bunda Literasi untuk Jawa Tengah Maju Berkelanjutan” di Grhadika Bhakti Praja, Selasa 10 Februari 2026, Nawal menyebut saat ini sudah ada 7.621 perpustakaan desa/kelurahan. Angka itu ditargetkan meningkat hingga 8.563, sesuai jumlah desa/kelurahan di Jawa Tengah.
“Harapannya nanti setiap desa/kelurahan punya perpustakaan. Bukan sekadar bangunan fisik, tapi pusat pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.
Selain perpustakaan desa, Jawa Tengah juga memiliki 36 perpustakaan daerah, 22.388 perpustakaan sekolah, 1.425 perpustakaan khusus, serta 1.297 taman baca masyarakat (TBM) yang digerakkan komunitas dan relawan.
Menurut Nawal, sinergi seluruh jenis perpustakaan akan memperkuat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat.
Data Perpustakaan Nasional mencatat TGM masyarakat Jateng naik dari 71,31 persen (2023) menjadi 73,91 persen (2024). Bahkan pada 2023, Jawa Tengah menempati posisi kedua nasional.
Nawal juga menekankan peran Bunda Literasi di 35 kabupaten/kota sebagai penggerak inovasi.
Peran ini diyakini mendukung program Gubernur Ahmad Luthfi dalam meningkatkan kualitas SDM sekaligus mempercepat penurunan angka kemiskinan.
“Literasi harus berbasis akar rumput dan budaya lokal. Perpustakaan desa bisa jadi sarana menjaga kearifan lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Dengan semangat itu, Nawal berharap gerakan literasi di Jawa Tengah semakin masif dan berkelanjutan.
“Salam literasi untuk seluruh masyarakat Jawa Tengah. Semoga ini jadi titik tolak kemajuan literasi kita,” tutupnya.












