JAVANEWS.ID – DI tengah hiruk-pikuk media sosial akhir-akhir ini, nama-nama artis Indonesia tiba-tiba jadi bahan obrolan panas. Bukan karena lagu baru atau film laris, melainkan tuduhan keterlibatan dalam kasus pencucian uang yang bikin mata melotot.
Raffi Ahmad, misalnya, lagi-lagi kena getahnya, meski dia sudah bolak-balik bantah dan bahkan Hotman Paris pasang badan buat bela. Begitu juga suami Sandra Dewi, Harvey Moeis, yang tersangkut kasus korupsi timah raksasa senilai Rp 271 triliun, lengkap dengan dugaan pencucian uang yang bikin publik geleng-geleng kepala.
Ada pula rumor liar soal 25 artis terima aliran dana Rp 3.000 triliun dari Rafael Alun, meski faktanya belum ada bukti resmi dan malah terbukti sebagai isu tanpa dasar.
Ramalan paranormal seperti Roy Kiyoshi bahkan bilang bakal ada artis ditangkap karena hal ini, menambah bumbu misteri di dunia hiburan. Semua ini masih dugaan, tapi sudah cukup buat kita lihat sisi lain dari gemerlap selebriti: bagaimana gaya hidup mewah mereka mempengaruhi pandangan kita soal kesuksesan.
Lihat saja bagaimana budaya selebriti ini bikin standar hidup melonjak tinggi. Artis-artis yang jarang tampil di film, sinetron, atau produksi syuting lain, bisa pamer mobil mewah, rumah bak istana, dan liburan ke mana-mana, seolah kekayaan datang begitu saja dari endorse atau syuting.
Padahal, di balik itu, konsumerisme jadi racun halus yang bikin orang biasa merasa miskin meski sudah kerja keras. Mereka jadi panutan, tapi panutan yang bikin kita iri dan akhirnya ikut-ikutan beli barang branded demi terlihat sukses.
Ironisnya, kalau rumor cuci uang ini beneran, berarti kekayaan itu mungkin bukan dari kerja keras, tapi dari aliran dana gelap yang disembunyikan di balik senyum manis di layar kaca.
Ini bukan cuma gosip, tapi cermin bagaimana masyarakat kita terpesona pada citra kaya raya, tanpa peduli asal-usulnya.
Nah, bicara soal citra kaya raya, fenomena ini mirip banget dengan demam drama China pendek yang lagi ngehits di Indonesia. Tahun 2025 ini, mikrodrama atau dracin singkat kayak gini lagi meledak, terutama di kalangan Gen Z yang doyan konten cepat di TikTok atau Reels.
Durasi cuma 2-5 menit per episode, tapi alurnya intens: CEO tampan yang nyamar jadi karyawan biasa, atau anak konglomerat yang amnesia setelah kecelakaan mobil lalu jatuh cinta sama gadis desa polos.
Artis-artis seperti Guo Yuxin atau Han Yutong jadi idola baru, dengan pesona yang bikin penonton klepek-klepek. Di Indonesia, popularitasnya gila-gilaan, dengan pendapatan industri di China saja capai miliaran, dan sekarang nyebar ke sini lewat platform streaming.
Tema klisenya itu loh: kaya mendadak, romansa lintas kelas, dan akhir bahagia di mana uang menyelesaikan segalanya.
Mirip rumor artis kita, kan? Bedanya, di drama itu pura-pura miskin buat cari cinta sejati, sementara di dunia nyata, pura-pura kaya dari sumber halal buat jaga image.
Kalau kita bedah lebih dalam, ini bukan sekadar hiburan murah. Fenomena ini bisa kita lihat lewat lensa kritis, seperti dalam karya sastra atau film yang satirkan konsumerisme dan korupsi.
Ambil contoh “The Great Gatsby” karya F. Scott Fitzgerald, novel klasik yang nyindir gaya hidup mewah di era Jazz, di mana kekayaan datang dari bisnis gelap tapi akhirnya hancur karena kepalsuan.
Gatsby itu seperti artis yang pamer harta, tapi di baliknya ada korupsi moral. Atau film “Idiocracy” garapan Mike Judge, yang hiperbola soal masyarakat masa depan yang bodoh karena konsumerisme berlebih, di mana iklan dan uang jadi dewa.
Di Indonesia sendiri, film “Orang Kaya Baru” satir mobilitas sosial lewat keluarga yang tiba-tiba kaya tapi malah jadi sombong dan korup. Lihat juga film pendek “Kronik Puriwicara” yang kritik tajam korupsi lewat cerita sederhana, tanpa perlu efek spesial mahal.
Karya-karya ini bukan cuma hibur, tapi ingatkan kita bahwa kekayaan palsu akhirnya bikin rusak, baik diri sendiri maupun masyarakat. Di drama China, CEO kaya jatuh cinta pada gadis lugu dan berubah jadi baik hati, hiperbola banget, kan?
Padahal di kehidupan nyata, kalau duitnya dari cuci uang, yang berubah cuma nomor rekening, bukan hati nurani.
Transisi ke sini, jangan-jangan demam dracin ini justru memperburuk masalah. Penonton terpesona pada kisah kaya mendadak, lalu lihat artis Indonesia yang mirip-mirip, akhirnya anggap itu normal dan malah ngefans.
Padahal, ini bikin standar hidup melambung: remaja rela ngutang pinjol buat beli gadget mahal demi ikut tren, atau bahkan mikir jalan pintas buat sukses.
Ironinya, sementara artis pamer jet pribadi, rakyat biasa strugel bayar tagihan listrik. Ini bukan cuma soal duit, tapi nilai-nilai yang tergeser: kesuksesan diukur dari like dan view, bukan integritas.
Mungkin saatnya kita buat dracin versi Indonesia: CEO korup yang nyamar jadi rakyat biasa, tapi malah ditangkap KPK setelah jatuh cinta pada jaksa lugu.
Lucu, kan? Biar penonton sadar, kekayaan beneran datang dari kerja jujur, bukan aliran dana misterius. Kalau gini terus, dunia hiburan kita bakal lebih asyik, tanpa drama palsu yang bikin capek hati. (Tulisan ini disempurnakan oleh AI)












