Berita  

Air Asin Jadi Air Kehidupan: Desalinasi Hadirkan Harapan Baru di Pantura

Desalinasi di pesisir Jateng (foto: Pemprov Jateng)
Desalinasi di pesisir Jateng (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID – Di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, air laut yang dulu dianggap musibah kini berubah menjadi berkah.

Setelah bertahun-tahun warga pesisir harus membeli air bersih dengan harga mahal dan berjalan jauh demi satu galon, kini mereka bisa menikmati air jernih, tawar, dan aman diminum langsung dari desa sendiri.

Perubahan ini hadir lewat program desalinasi yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tahun pertama kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.

Enam unit mesin desalinasi dibangun di sepanjang Pantura, mengubah air payau menjadi air minum layak konsumsi.

Solusi Nyata untuk Pesisir

  • Lokasi pembangunan: Brebes, Demak, Pati, Pekalongan, Rembang.
  • Produksi air: Satu mesin menghasilkan sekitar 4.000 liter per hari, cukup untuk 400 rumah per bulan.
  • Harga terjangkau: Air dijual sekitar Rp 2.500 per galon, separuh dari harga pasar.
  • Pengelolaan lokal: BUMDes, koperasi, hingga pesantren dipercaya mengoperasikan mesin.

Kepala Desa Randusanga Kulon, Affan Setyono, bahkan membagikan air gratis selama bulan pertama sebagai langkah awal yang humanis. Warga seperti Sri Hastutik merasakan langsung manfaatnya.

“Sekarang dekat dan murah. Airnya aman buat susu bayi,” ujarnya sambil menimang balita.

Mesin desalinasi ini dikembangkan oleh Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dengan teknologi reverse osmosis (RO) dan penyinaran ultraviolet.

Hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas air jauh di bawah ambang batas Permenkes, sehingga aman dikonsumsi.

Wakil Gubernur Taj Yasin menilai program ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga investasi jangka panjang untuk menekan stunting, memperbaiki gizi, dan mendukung UMKM.

“Kita bangga karena teknologi ini 100 persen karya anak bangsa,” tegasnya.

Pemprov Jawa Tengah berencana menambah dua unit desalinasi lagi pada 2026 di Tegal, Pemalang, dan Demak. Sementara Undip tengah menyiapkan inovasi berbasis tenaga surya agar lebih hemat energi dan ramah lingkungan.

Prof I Nyoman Widiasa, pakar desalinasi Undip, menyebut program ini sebagai contoh nyata kolaborasi lintas sektor.

“Dampak langsungnya air minum aman dan murah. Dampak jangka panjangnya kesehatan masyarakat dan lingkungan,” jelasnya.

Kini, di pesisir Jawa Tengah, air asin tak lagi sekadar masalah. Dengan teknologi dan kolaborasi, laut justru menghadirkan harapan baru: air kehidupan bagi warga yang selama ini paling dekat dengan pantai, namun paling jauh dari air bersih.