SEMARANG, JAVANEWS.ID– Akhir pekan lalu, tepatnya pada Sabtu (31/1) Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno atau Bang Doel mengunjungi kawasan Kota Lama Semarang. Tujuannya, studi banding (studi tiru, begitu istilah itu akhir-akhir ini kerap disebut). Rano mengaku, terkesan dengan pengelolaan Kota Lama Semarang, karena dinilai mampu memadukan banyak kepentingan sehingga menjadi destinasi wisata yang menarik, bahkan menjadi ikon.
Tentu saja menerima kunjungan Rano, Wali Kota Semarang beserta jajarannya berbunga-bunga. Apalagi kunjungan itu dilabeli istilah dahsyat yakni Studi Banding. Pelabelan itu, jelas menggambarkan bahwa Kota Semarang berhasil mengelola Kota Lama. Sebagai pengingat saja, Kota Lama Semarang adalah kawasan seluas lebih dari satu hektare yang terletak di Kecamatan Semarang Utara. Di sana terdapat puluhan bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Salah satu bangunan yang terkenal di Kota Lama adalah Gereja Blenduk yang masih digunakan hingga kini, meski usianya sudah lebih dari seabad. Selain Gereja Blenduk, masih terdapat sejumlah bangunan kuno lain. Ada yang masih utuh dan terawat, ada yang utuh tak terawat, juga ada yang ambruk menyisakan onggokan sisa bangunan.
Kota Lama Semarang adalah destinasi wisata terbuka. Artinya untuk mengunjungi tak perlu bayar tiket, kecuali bayar parkir. Pengunjung bisa berkeliling sesukanya. Mau menyusuri jalan yang terang-benderang, temaram, bahkan gelap tak dilarang. Bahkan kalau betah pengunjung bisa menyusuri Kali (Sungai) Berok yang penuh lumpur, dan sampah plus bau. Stasiun kereta api Semarang Tawang, kantor Pelni ada di kawasan ini. Dulu juga ada terminal khusus bus Damri, tapi sekarang tak terawat. Oh ya, juga ada hiburan malam, dan sejumlah hotel.
Baik kita kembali ke tujuan studi banding Pemprov DKI Jakarta. Sudah jadi rahasia umum bahwa studi banding memiliki etikanya sendiri, dan ditaati dengan disiplin tinggi. Etika yang dimaksud yakni ‘’lihat saja yang terbaik, bicarakan keberhasilan, dan lupakan yang gagal.’’ Etika ini tak tertulis. Antara pihak yang berkunjung dan kunjungi tahu sama tahulah. Etika itu beroperasi sendiri secara halus, sopan, dan efektif agar pihak yang dikunjungi dan mengunjungi merasa nyaman.
Kota Lama Semarang yang dikunjungi Rano Karno bukanlah kawasan baru jadi, tetapi sudah lama. Bahkan kini terlihat mulai bopeng di sana-sini. Memang, bangunan bersejarah masih bercat rapi, jalur pedestrian tertata, kafe dan galeri seni hidup, wisatawan lalu-lalang. Narasi revitalisasi yang menegaskan bahwa kawasan yang lama mati kini berubah menjadi destinasi unggulan. Jadi sungguh pas sebagai tempat studi banding, karena secara visual jelas, dan nyata.
Namun kondisi Kota Lama Semarang hari ini sesungguhnya lebih kompleks dari sekadar panggung keberhasilan. Di balik wajah estetiknya, kawasan ini masih menghadapi persoalan yang setiap saat bisa mengancam. Seperti banjir dan rob, perawatan infrastruktur yang mahal, ketergantungan pada event wisata, serta konflik antara kepentingan konservasi dan komersialisasi. Dari situ saja, sesungguhnya Kota Lama Semarang belum sepenuhnya mandiri. Ia masih sekadar hidup.
Hingga saat ini masih banyak bangunan yang kosong, dan tak berfungsi atau difungsikan. Pedestrian rapi, tetapi sedikit saja keluar dari kawasan itu teramat banyak jalan berlubang yang dibiarkan menahun. Kondisi seperti itu tentu tak bakal terungkap selama kunjungan studi banding, ya, apalagi kalau tidak karena etika tersebut. Yang dibicarakan adalah keberhasilan penataan, bukan biaya perawatannya. Yang dipuji adalah wajah hari ini, bukan proses panjang yang berulang kali mengalami kegagalan, tarik-menarik kepentingan, dan kebijakan yang sempat salah arah serta perparkiran yang terus menggoda. Soal kegagalan dianggap tak relevan atau tak pantas dibahas di forum resmi.
Pemprov DKI tentu berharap Kota Lama Semarang bisa menjadi inspirasi bagi penataan Kota Tua Jakarta. Harapan itu sah. Namun persoalan Kota Tua Jakarta berbeda dengan Kota Lama Semarang, bahkan bisa dikata jauh lebih kompleks. Menurut para pakar dan pengamat, persoalan Kota Tua Jakarta melingkupi konflik sosial, tekanan ekonomi, kepadatan, dan sejarah kebijakan yang tidak sederhana. Karena itulah jika studi banding yang dilakukan Rano Karno tak menguak sisi rapuh Kota Lama Semarang, hanya akan menghasilkan tiruan estetika tanpa kesiapan struktural.
Bagi warga Kota Semarang, kawasan Kota Lama kerap dianggap sebagai etalase kebijakan. Make-upnya sedemikian rupa sehingga layak dipamerkan kepada tamu. Namun, kenyataan Kota Semarang yang sesungguhnya dilupakan. Padahal tak perlu jauh-jauh dari kawasan itu, persoalan jalan rusak, banjir, rob, dan tambal-sulam kebijakan masih menjadi rutinitas.
Lalu kelirukah jika Wali Kota dan jajarannya menerima dengan senang hati kehadiran Rano Karno selaku Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk studi banding? Jawabnya, tidak! Namun walau pun tidak keliru, studi banding itu akan melahirkan sebuah paradoks. Sebab, bagaimana mungkin kota yang belum selesai dengan problem dasarnya dijadikan rujukan. Jika studi banding sungguh dimaksudkan sebagai proses belajar, maka pelajaran terpenting dari Kota Lama Semarang tidak terletak hanya pada keberhasilannya, tapi juga perlu ditilik sisi rentannya. Sisi itu antara lain melingkupi mahalnya biaya perawatan kawasan heritage, sulitnya menjaga konsistensi kebijakan, dan kemungkinan mudahnya keberhasilan berubah karena tak ditopang pembenahan kota secara menyeluruh.
Jika tak menyentuh segala sesuatu yang berkait erat dengan Kota Lama Semarang, bisa dipastikan studi banding Pemprov DKI Jakarta yang dikomandanin Rano Karno hanya akan menjadi ritual birokrasi yang rapi di laporan, tetapi miskin refleksi. Memang cara itu akan mengesankan bahwa para pemimpin dan pejabat daerah terus-menerus belajar untuk perbaikan daerahnya masing-masing. Semoga saja benar begitu. Sayangnya studi banding biasanya cenderung untuk mengagumi hasil orang lain, sambil terus melupakan kegagalan, baik milik tuan rumah maupun diri sendiri. Lalu apa yang kau cari Bang Doel?(*)
=Fikri Bumantara– Editor Javanews.id












