Berita  

Durian, Sang Raja Diraja Buah, Menyebar ke Berbagai Negara

Pedagang durian di pasar ace Kecamatan Mijen, Kota Semarang (Foto: Fikri Bumantara/Javanews.id)
Pedagang durian di pasar ace Kecamatan Mijen, Kota Semarang (Foto: Fikri Bumantara/Javanews.id)

JAVANEWS.ID– Sang Raja Diraja buah saat ini sedang menjalankan aksinya. Menebar bau wangi di nyaris sekujur negeri, bahkan sampai ke negara tetangga. Durian, itulah dia si Raja Buah itu. Di Semarang, juga di berbagai daerah lain di Jawa Tengah, bau durian melewati nyaris segala tembok pembatas. Aroma wangi buah dengan kulit berduri itu masuk rumah di perkampungan hinga rumah mewah.

Maklum, sedang musim, dan para penggila durian sedang asyik berburu durian enak, untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, sejawat, kolega, bahkan komunitas tertentu. Mulai dari tingkat RT hingga kalangan elite. Di Kota Semarang, durian bisa ditemukan di delapan (8) penjuru angin. Bukan hanya di pinggiran, di perkotaan pun durian mudah didapat. Harganya beragam antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 per buah, bergantung ukuran.

Datuk Dalang Ranggi tokoh senior dalam serial anak-anak Upin dan Ipin (yang terus-menerus diulang-ulang penayangannya di televisi swasta, entah kapan diakhiri) boleh saja pamer ada kampung Durian Runtuh di Malaysia. Tapi jangan salah, durian asli, seaslinya berasal dari Kalimantan dan Sumatra. Di negeri ini terdapat 29 spesies, meski hanya 9 spesies saja yang bisa dimakan. Dan, harap tahu, spesies Durion Zibethinus yang asli Kalimantan dan Sumatra satu-satunya yang tersedia di pasar internasional. Dan, spesies itulah yang dikembangkan para petani durian Thailand, Malaysia, Filipina hingga menjadi ratusan varietas. Spesies Durio Zibethinus itu juga dibudidayakan secara komersial dalam skala besar baik di Indonesia, dan negara tetangga tersebut.

Warga negeri ini sudah paham benar ciri khas durian. Kulitnya berduri, baunya kuat. Ukuran per buah paling maksimal panjang 30 cm dengan diameter 15 cm, dan beratnya bisa 1 kg hingga 3 kg. Bentuknya ada yang lonjong, ada yang bulat, warna kulitnya ada hijau hingga cokelat. Sedangkan daging bijinya ada yang kuning pucat hingga merah.

Bagi penggemarnya, aroma wangi durian menggoda selera karena dari situlah tersimpan rasa. Namun bagi kalangan tertentu aroma durian dianggap tak menyenangkan. Baunya yang kuat dan bisa bertahan berhari-hari menyebabkan hotel dan layanan transportasi umum melarang buah tersebut dibawa masuk.

Nama “durian” berasal dari kata Melayu “duri”, yang merujuk pada banyaknya duri tajam pada kulitnya, ditambah akhiran “an” maka jadilah “durian”.  Oxford English Dictionary, mencatat kata ini pertama kali digunakan dalam bahasa Inggris pada 1588, dalam Historie of the Great and Mightie Kingdome of China karya Juan González de Mendoza. Ejaan varian historisnya meliputi durion, duryoen, duroyen, durean, dan dorian. Nama spesies Durio Zibethinus, berasal dari bahasa Italia zibetto yang berarti musang. Penamaan ini terkait bau durian yang kuat sehingga mengingatkan orang pada bau hewan musang.

Persaingan budidaya durian berlangsung sangat keras antara Indonesia, Malaysia, Thailand. Kementerian Pertanian dan Industri Berbasis Agro Malaysia sejak 1934 telah memiliki daftar varietas yang dilakukan, dan tahun 2021 negeri jiran itu memiliki kurang lebih memiliki 200 varietas. Namun, dari jumlah itu hanya 13 varietas yang dikenal umum dengan kualitas warna, tekstur, bau, rasa, hasil tinggi, dan tahan penyakit dan hama. Salah satu yang populer adalah durian Musang King yang ditemukan pada 1980 di Gua Musang, Kelantan.

Indonesia memiliki lebih dari 100 varietas asli, 55 varietas budidaya dari spesies Durio Zibethinus. Hingga 2005 terdapat 38 kultivar unggul yang telah diseleksi dan diperbanyak secara vegetatif. Yang unik dan menarik, setiap daerah di Indonesia memiliki durian unggul. Di Jateng kita mengenal nama-nama beken seperti durian Petruk, Bawor, Semar, Bagong. Dari Jatim kita mengenal durian bido, arjuna. Belum lagi ras local yang langsung menggunakan nama daerah asalnya, seperti durian Parung, durian Lampung, durian Jepara, durian Palembang, durian Medan, durian merah Banyuwangi, dan lain-lain.

Lalu bagaimana dengan Thailand? Negeri gajah putih itu lebih dikenal sebagai eksportir durian, bahkan disebut sebagai negara pengekspor utama si raja buah itu. Thailand mampu mengembangkan kultivar bermutu tinggi dan sistem budidaya berteknologi tinggi. Salah satu produknya yang mendunia bernama durian Monthong.

Kualitas durian ditentukan oleh aromanya yang kuat namun tidak menyengat, bentuk bulat simetris, warna kulit hijau kekuningan atau cokelat kekuningan, serta duri yang tidak terlalu tajam/rapat. Baik atau tidak kualitas buah durian juga bisa dilihat dari duri yang kokoh, dan kulit tidak kusam.

Di dalam setiap 100 gram salut/daging biji durian terkandung nilai gizi: 67 gram air, 28,3 gram, karbohidrat, 2,5 gram lemak, 2,5 gram protein, 1,4 gram serat. Juga mengandung energi sebesar 520 kJ, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C; serta kalium, kalsium dan fosfor.

Di sentra-sentra utama penghasil durian, saat panen buah durian berlimpah. Karena itu pula daging buah yang berlebih-lebihan ini diolah menjadi berbagai kuliner. Di Kalimantan olahan durian yang beken adalah Lempok, di Sumatra Selatan ada Tempoyak yang merupakan framentasi daging buah durian. Selain yang khas seperti lempok dan tempoyak, daging buah durian juga banyak digunakan untuk campuran kue tradisional seperti jenang, es krim, dan lain-lain.

Jadi mau pilih yang mana, durian segar, olahan khas berbahan baku durian, atau sekadar ingin es krim durian saja? Itu bergantung selera. Yang pasti durian tak datang setiap hari atau bulan. Raja Diraja Buah ini hanya datang setahun sekali. Memang ada durian asal negara tetangga, tapi tentu lebih afdhol kalau menyantap buah durian yang baru dipetik dari pohon, atau datang ke pasar durian beramai-ramai bersama keluarga, teman atau komunitas untuk menikmati durian di sana. (*)

Liputan & Editor: Fikri Bumantara