Berita  

Harga Telur Terus Bergerak: Naik,… Turun,… Naik Lagi,… Ehh…Naik Lagi

Harga telur ayam ras yang terus bergerak nyaris tiada henti. (Foto dok)
Harga telur ayam ras yang terus bergerak nyaris tiada henti. (Foto dok)

SEMARANG JAVANEWS.ID– Harga telur tak pernah berhenti dari pergerakan. Naik, turun dikit, naik lagi, kemudian stabil beberapa hari, lalu naik, dan turun lagi, eh…naik lagi. Kondisi itu dapat dilihat baik di pasar modern seperti jaringan Superindo, swalayan ADA, jaringan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart, bahkan di seluruh pasar tradisional sekalipun.

Rata-rata harga telur ayam per kilogram di Jawa Tengah per awal Januari 2026 berkisar antara Rp 26.000 – Rp 27.500. Dari pantauan lapangan, misalnya, di Kendal Rp 26.100/kg, Kota Semarang Rp 27.000/kg, Salatiga Rp 26.200/kg, Kudus, dan Pati di sekitar Rp 27.000/kg.

Secara umum harga telur per kilogram di Jawa Tengah pada awal Januari sekitar Rp 27.000/kg. Harga itu sedikit turun dibanding awal Desember lalu yakni kitaran Rp 28.100/kg. Bahkan di daerah tertentu, seperti pasar tradisional di Kudus, Desember lalu harga telur ayam ras per kilogram mencapai sekitar Rp 30.000 -32.000/kg. Di Kota Semarang ada beda harga sedikit antara di pasar tradisional yang rerata pedagang menjual dengan harga Rp 30.000-31.000/kg, bahkan ada yang menjual dengan harga Rp32.350–Rp32.800/kg pada awal Desember lalu. Sdangkan di pasar modern nyaris menyentuh harga itu, yakni kitaran Rp 29.750 – Rp 29.850/kg.

Fluktuasi seperti itu semestinya tak boleh terjadi di Jawa Tengah. Provinsi ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan ayam petelur nasional. Mestinya, kalau produksi besar seharusnya berbanding lurus dengan stabilitas harga. Sayangnya harga telur terus bergerak, naik dan turun mengikuti irama pasar yang tak selalu ramah bagi rumah tangga kecil.

Naik dan turunnya harga, membuat telur tak bisa lagi disebut penanda kesederhanaan, juga bukan simbol kemawaan. Telur ada di dapur mayoritas masyarakat karena ia murah, mudah diolah, dan cukup untuk mengganjal kebutuhan gizi harian. Tetapi, seiiring fluktuasi harganya yang terus-menerus tiada henti, semua predikat telur itu pelan tapi pasti mulai hilang.

Bagi konsumen, fluktuasi harga telur bukan sekadar angka, namun memengaruhi kebiasaan makan, cara berbelanja, bahkan keputusan kecil di dapur. Ketika harga naik, telur menjadi lauk yang dipertimbangkan, bukan lagi pilihan spontan. Dalam rumah tangga berpenghasilan pas-pasan, kenaikan kecil pun terasa besar. Telur memang tak melonjak setinggi daging sapi, tetapi karena biasa dikonsumsi setiap hari, dampak kenaikkannya terasa sangat nyata.

Uniknya, dan ini kerap terjadi, fluktuasi harga telur tak berdampak langsung pada peternak ayam petelur. Harga jual di tingkat kandang kerap tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus meningkat. Akibatnya, harga telur yang mahal di tingkat konsumen itu, sering kali tak diarasakan oleh peternak. Harga telur yang mahal bagi pembeli, tetapi belum tentu menguntungkan peternak.

Maka jelaslah sudah bahwa ada mata rantai panjang yang memisahkan kandang peternak ayam petelur dari dapur. Ada mekanisme pasar yang membuat keuntungan menumpuk di tengah, dan peternak dan konsumen sama-sama menanggung tekanan. Persoalan struktural yang menyebabkan fluktuasi harga telur ini tak boleh terus dibiarkan berlama-lama.

Ketahanan Pangan

Kenaikan harga telur sering dianggap musiman yang akan berlalu dengan sendirinya. Tetapi ketika pola naik turun ini terus berulang, pertanyaannya bukan lagi soal musim, melainkan soal kesiapan kebijakan. Apakah pengelolaan pangan kita hanya bersifat reaktif, hadir saat gejolak muncul, lalu menghilang ketika situasi tampak normal?

Harga telur yang naik turun tiada henti seharusnya dibaca sebagai sinyal yang menjadi tanda rapuhnya sistem yang terlalu bergantung pada mekanisme pasar tanpa penyangga yang kuat. Bagi daerah sentra seperti Jawa Tengah, stabilitas telur semestinya bukan sekadar urusan statistik, melainkan cerminan keberpihakan pada peternak dan perlindungan bagi konsumen.

Seperti terus digaungkan pemerintah, telur memegang peran penting dalam ketahanan pangan. Sebab telur sumber protein utama bagi banyak keluarga, terutama kelas menengah ke bawah. Ketika harga telur naik, turun, naik lagi, turun lagi alias tidak stabil, dampaknya bisa menjalar ke mana-mana. Antara lain menurunnya konsumsi protein, dan ini dia: jarak antara wacana pangan murah dan realitas lapangan makin melebar. (*)

*Liputan & Editor: Fikri Bumantara