Berita  

Dari Transmigrasi ke Kepemimpinan, Diaspora Jawa Tengah Warnai Lampung

Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat kunjungan ke Lampung, Rabu 7 Januari 2026 (foto: Pemprov Jateng)
Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat kunjungan ke Lampung, Rabu 7 Januari 2026 (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID -Puluhan tahun silam, ribuan keluarga dari Jawa Tengah meninggalkan kampung halaman dengan bekal sederhana: etos kerja, ketekunan, dan daya tahan hidup.

Mereka menempuh perjalanan panjang menuju tanah baru di Lampung, membuka ladang perawan, membangun rumah, dan menata masa depan dari nol.

Kini, jejak perjuangan itu menjelma menjadi fondasi kesuksesan. Dari usaha kopi hingga kursi pemerintahan, diaspora Jawa Tengah di Lampung telah melahirkan tokoh-tokoh penting yang memberi warna bagi pembangunan daerah.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Riyanto Pamungkas, Bupati Pringsewu periode 2025–2030.

Anak bungsu dari sebelas bersaudara ini lahir dari keluarga transmigran mandiri asal Jawa yang datang ke Lampung pada 1956.

Ayahnya bekerja sebagai buruh, sementara sang ibu meracik kopi rumahan. Dari lingkungan sederhana itu, Riyanto belajar arti kerja keras.

Pada usia 21 tahun, ia merintis usaha kopi sangrai. Perjalanan panjang itu berbuah pada berdirinya pabrik Kopi Klangenan pada 2010, yang kini menyerap ratusan tenaga kerja lokal.

Kesuksesan di dunia usaha kemudian mengantarkannya ke panggung politik, dipercaya memimpin Kabupaten Pringsewu hingga 2030.

“Pendatang biasanya lebih ‘fight’. Bisa menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Tapi justru itu yang membentuk daya tahan,” ujarnya.

Jejak serupa terlihat pada Jihan Nurlela, Wakil Gubernur Lampung periode 2025–2030. Lahir dari keluarga transmigran yang datang pada 1982, Jihan tumbuh dengan nilai kerja keras dan kesederhanaan. “Nilai-nilai itu yang kami pegang sampai sekarang,” katanya.

Bagi Jihan, keberhasilan diaspora tak lepas dari kemampuan menjaga budaya sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia berpesan agar generasi penerus tetap menurunkan nilai-nilai positif kepada anak cucu, sehingga diaspora hadir sebagai kekuatan sosial yang memberi manfaat bagi daerah asal maupun daerah tempat tinggal.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang berkunjung ke Lampung, menyaksikan langsung hasil kerja keras diaspora. Ia menegaskan falsafah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi prinsip hidup yang membuat masyarakat Jawa diterima dan berkembang di tanah rantau.