JAVANEWS.ID – Kota Semarang kini tak lagi sekadar pasrah pada pepatah bahwa air akan mencari jalannya sendiri.
Setelah dihantam banjir besar pada periode 2024–2025, ibu kota Jawa Tengah ini memilih jalur transformasi radikal.
Bukan dengan menambah beton secara membabi buta, melainkan dengan berdamai melalui prinsip fisika yang cerdas.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menegaskan bahwa paradigma pemerintah telah bergeser.
Menurutnya, Semarang tidak lagi sekadar melawan air dengan mesin, melainkan berusaha mengelola perilakunya.
“Ini soal kearifan rekayasa, bukan sekadar adu kekuatan,” ujarnya.
Salah satu langkah paling mencolok terlihat di kawasan Kaligawe. Saluran yang semula hanya selebar 10 meter kini diperlebar hingga 40 meter.
Dengan ruang yang lebih luas, air dapat mengalir lebih tenang dan lancar, sehingga risiko luapan akibat tekanan tinggi bisa ditekan. Pelebaran ini juga mengurangi potensi sumbatan karena sedimentasi yang selama ini menjadi masalah klasik.
Selain itu, Semarang kini mengandalkan kombinasi sistem polder dan pompa.
Polder berfungsi sebagai wadah penampung sementara, menahan beban air hujan agar tidak langsung menyerbu saluran utama.
Sementara itu, pompa ditempatkan di titik-titik rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan untuk memindahkan air ke laut dengan cepat.
Sinergi antara polder dan pompa ini dijalankan melalui kolaborasi lintas instansi, mulai dari Balai Wilayah Sungai, Balai Pelaksana Jalan Nasional, hingga dukungan TNI.
Transformasi ini tidak hanya berdampak pada kondisi jalanan yang lebih kering, tetapi juga membawa efek domino bagi stabilitas ekonomi kota.
Dengan berkurangnya ketidakpastian banjir, pelaku usaha kini lebih berani menanamkan modal di Semarang. Masyarakat pun bisa beraktivitas tanpa rasa cemas setiap kali mendung menggantung di langit.
Namun, Agustina mengingatkan bahwa musuh terbesar bukanlah hujan, melainkan sampah.
“Satu kantong plastik bisa merusak seluruh perhitungan fisika yang cermat ini,” tegasnya. Infrastruktur secanggih apa pun akan lumpuh jika saluran air tersumbat oleh kelalaian manusia.
Kini, Semarang menjelma menjadi laboratorium hidup bagi kota-kota pesisir lain di Indonesia.
Pelajarannya jelas; banjir bukan takdir yang tak bisa dihindari. Dengan ilmu pengetahuan yang berpadu dengan kesadaran sosial, ancaman bisa dijinakkan dan diubah menjadi sistem yang terkendali.












