Berita  

Kasus Bunuh Diri Meningkat, Pemkot Pekalongan Siapkan Langkah Antisipasi

ilustrasi bunuh diri (pixabay/ Fotorech)
ilustrasi bunuh diri (pixabay/ Fotorech)

JAVANEWS.ID – Kasus bunuh diri yang terjadi sepanjang tahun 2025 di Kota Pekalongan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid (Aaf), menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi alarm bersama terkait pentingnya kesehatan mental masyarakat.

Dalam kurun waktu satu tahun, tercatat tiga kasus bunuh diri terjadi di wilayah kota. Salah satunya di Sungai Lodji, di mana korban diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan.

“Ini tentu menjadi perhatian kita semua. Kejadian ini jadi bahan evaluasi, terutama bagi lurah dan camat untuk mendata warganya secara lebih detail,” ujar Aaf, Senin 22 Desember 2025.

Sebagai respons, Pemkot Pekalongan akan memperkuat sistem pendataan warga melalui kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

Pendataan tidak hanya mencakup aspek sosial-ekonomi, tetapi juga kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental.

“Data ini penting supaya penanganannya tidak terlambat. Dengan pendataan yang komprehensif, intervensi bisa dilakukan sejak dini dan lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Aaf juga mengingatkan masyarakat untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas kesehatan jiwa yang tersedia.

Layanan dokter jiwa dapat diakses di RSUD Bendan, RS Junaid, maupun rumah sakit swasta lain di Pekalongan. Semua layanan tersebut dijamin melalui program UHC dan BPJS.

“Jangan khawatir soal biaya. Kalau ada keluarga atau saudara yang membutuhkan, silakan konsultasi,” tegasnya.

Selain penguatan data dan layanan medis, Pemkot Pekalongan juga melibatkan tokoh agama dalam upaya pencegahan.

Menurut Aaf, tokoh agama memiliki peran strategis dalam memberikan penguatan spiritual dan moral yang berdampak pada ketenangan psikologis masyarakat.

“Kami titipkan pesan-pesan melalui ceramah kepada jamaah dan santri. Tidak hanya soal kesehatan mental, tapi juga persoalan kebersihan dan pembangunan kota,” tambahnya.