JAVANEWS.ID – Di tengah kecemasan orang tua mencari sekolah bagi anak-anaknya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menghadirkan jawaban yang menenangkan.
Melalui Program Sekolah Kemitraan, pintu sekolah swasta dibuka lebar bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Biaya pendidikan ditanggung pemerintah, sehingga anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolah tanpa terbebani ekonomi.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, pendidikan adalah investasi masa depan.
“Negara harus hadir memastikan anak-anak tetap bersekolah. Ini gratis bagi siswa miskin di sekolah swasta yang ditunjuk,” ujarnya.
Skema ini sederhana namun berdampak luas. Pemerintah menggandeng 56 SMA dan 83 SMK swasta untuk menampung siswa miskin. Pada tahun ajaran 2025/2026, tercatat 2.390 murid diterima, terdiri dari 526 siswa SMA dan 1.864 siswa SMK.
Tak berhenti di situ, sebanyak 2.614 murid tambahan kembali difasilitasi melalui seleksi berbasis tingkat kemiskinan. Semua biaya ditanggung pemerintah daerah, dengan alokasi Rp 2 juta per siswa per tahun dari APBD. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 2,39 miliar melalui BOS Daerah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Sadimin, menegaskan kebijakan ini lahir dari kebutuhan nyata.
“Daripada anak-anak tidak tertampung, kami memperluas kapasitas dengan menggandeng sekolah swasta,” katanya.
Selain pemerataan akses, Pemprov Jateng juga memberi perhatian pada siswa berbakat olahraga. Tahun ajaran 2025/2026, SMA Negeri Keberbakatan Olahraga resmi beroperasi dengan sistem asrama dan kurikulum fleksibel yang menyesuaikan jadwal latihan.
Sekolah ini menampung 252 murid dari kelas X hingga XII, dengan fokus pada 21 cabang olahraga mulai dari atletik, angkat besi, panjat tebing, hingga wushu.
Pendekatan ini mulai menunjukkan hasil. Pada Popnas 2025, siswa sekolah ini menyumbangkan enam medali emas, satu perak, dan dua perunggu untuk Jawa Tengah.
Sadimin menekankan bahwa kebijakan pendidikan di Jawa Tengah tidak hanya soal pemerataan akses, tetapi juga memberi ruang bagi bakat istimewa.
“Kami ingin memastikan akses pendidikan merata, sekaligus memberi ruang bagi prestasi generasi muda Jawa Tengah untuk tumbuh,” ujarnya.
Sekolah Kemitraan menjadi jembatan bagi siswa miskin untuk tetap bersekolah, sementara SMAN Keberbakatan Olahraga memastikan atlet muda tidak perlu memilih antara buku pelajaran atau arena pertandingan.












