Berita  

Tragedi Bus PO Cahaya Trans di Tol Krapyak: Jasa Raharja Pastikan Santunan Korban Cair dalam Dua Hari

Direktur Operasional PT Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana
Direktur Operasional PT Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana

JAVANEWS.ID – Kecelakaan maut yang melibatkan bus PO Cahaya Trans di Simpang Susun Exit Tol Krapyak pada Senin 22 Desember 2025 dini hari menyisakan duka mendalam.

Tercatat, sebanyak 16 orang meninggal dunia dalam insiden tragis tersebut.

Direktur Operasional PT Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam saat meninjau langsung kondisi para korban.

“Kami menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang dialami saudara-saudara kita korban bus PO Cahaya Trans. Ini adalah duka yang luar biasa, terlebih ada anak yang harus kehilangan ibunya tepat di Hari Ibu ini,” ujar Dewi di RS Tugu Semarang.

Berdasarkan data terbaru hingga Senin siang, persebaran korban adalah sebagai berikut:

  • RS Kariadi: 15 orang meninggal dunia.
  • RS Tugu: 1 orang meninggal dunia, 9 orang luka-luka (3 rawat inap, dan 1 dirujuk ke Bumiayu).

Petugas Jasa Raharja saat ini tengah melakukan pendataan cepat di lapangan.

Ahli waris korban diketahui tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, Bogor, Jakarta, hingga Banten.

Sebagai bentuk kehadiran negara, Jasa Raharja berkomitmen mempercepat proses pemberian santunan.

Dewi menegaskan bahwa dana santunan akan langsung ditransfer ke rekening ahli waris segera setelah verifikasi data selesai.

“Janji kami, setelah ahli waris dipastikan, santunan akan kami sampaikan dalam waktu dua hari melalui transfer rekening,” tegas Dewi.

Adapun rincian santunan sesuai undang-undang adalah:

  1. Meninggal Dunia: Rp50.000.000 per ahli waris.
  2. Luka-luka: Biaya perawatan maksimal Rp20.000.000.

Untuk korban luka yang dirawat di rumah sakit, Jasa Raharja telah menerbitkan guarantee letter (surat jaminan) sehingga keluarga korban tidak perlu mengkhawatirkan biaya administrasi awal.

Menutup pernyataannya, Dewi mengimbau seluruh pengusaha otobus dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.

Ia menekankan bahwa kesiapan kendaraan dan kondisi fisik pengemudi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

“Pengemudi jika mengantuk harus istirahat, kendaraan juga harus betul-betul fit. Jangan sampai ada nyawa yang hilang sia-sia di jalan karena kelalaian,” pungkasnya.