Berita  

7.810 Desa di Jateng Jadi Motor Pembangunan Nasional

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan paparan dalam Lokakarya Desa/Kelurahan Berprestasi di Boyolali, Rabu 14 Januari 2026 (foto: Pemprov Jateng)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan paparan dalam Lokakarya Desa/Kelurahan Berprestasi di Boyolali, Rabu 14 Januari 2026 (foto: Pemprov Jateng)

JAVANEWS.ID – Desa dan kepala desa dipandang sebagai ujung tombak pembangunan nasional.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pembangunan nasional harus berangkat dari desa.

“Kepala desa harus bangga sebab merekalah ujung tombak pembangunan nasional,” katanya saat menjadi narasumber dalam Lokakarya Desa/Kelurahan Berprestasi, rangkaian Hari Desa Nasional 2026 di Pendopo Gedhe, Kabupaten Boyolali, Rabu 14 Januari 2026.

Ia menekankan desa berprestasi harus menjadi pionir pembangunan di wilayah masing-masing.

Arah kebijakan pembangunan desa, lanjutnya, harus berorientasi pada pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Jawa Tengah sendiri memiliki 7.810 desa dan kelurahan, terbanyak di Indonesia. Potensi desa mencakup sektor pertanian, pariwisata, pesisir, energi, hingga ekonomi lokal.

Pada 2025, produksi jagung di 449 desa mencapai 3,69 juta ton, sementara 334 desa menjadi sentra padi dengan dukungan 657 kelompok lumbung pangan. Selain itu, terdapat 2.331 desa mandiri energi dengan kategori mapan, berkembang, dan inisiatif.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan hingga 2029 tercapai 2.575 Desa Mandiri dan 3.200 BUMDes Maju. Program prioritas meliputi penguatan tata kelola pemerintahan desa, bantuan keuangan, serta pengembangan industri hijau berbasis potensi lokal.

Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendes PDTT, La Ode Ahmad P Bolombo, menegaskan desa berbasis potensi lokal menjadi kunci Indonesia Emas.

“Sekitar 61 juta orang mudik ke Jawa Tengah. Desa harus mampu menangkap potensi itu dengan menjadikan desa sebagai happy village,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos menekankan pentingnya pemetaan potensi desa melalui kerja sama dengan perguruan tinggi.

Ia mencontohkan pengembangan komoditas kelapa dan kebutuhan riil nelayan serta petani sebagai bagian dari pemerataan pembangunan.

“Bantuan itu banyak. Tugas kita adalah mengorkestrasikannya agar hasilnya nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” ungkap Sherly.