Berita  

245 Pedagang Ramaikan Dugderan, Tradisi Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dalam Pasar Dugderan 2026 (foto: Pemkot Semarang)
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dalam Pasar Dugderan 2026 (foto: Pemkot Semarang)

JAVANEWS.ID – Kawasan Alun-alun Masjid Agung Kauman dan Jalan Ki Narto Sabdo mendadak berubah wajah menjadi pusat UMKM dalam rangka Pasar Dugderan 2026.

Tradisi tahunan menyambut Ramadan ini berlangsung selama sepuluh hari hingga 16 Februari, menghadirkan kuliner, mainan tradisional, hingga kerajinan tangan yang menjadi memori kolektif warga lintas generasi.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut Dugderan sebagai panggung rakyat yang memberi ruang bagi UMKM dan pedagang kecil.

“Alun-alun kita pakai maksimal sebagai ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat. Semua yang ingin jualan silakan, yang penting tertib dan pelaku usaha kecil jadi prioritas utama,” ujarnya, Minggu 8 Februari 2026.

Tahun ini, sebanyak 245 pedagang resmi berjualan di Pasar Dugderan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, menyebut jumlah tersebut sengaja dibatasi demi kenyamanan pengunjung, meski kapasitas bisa mencapai 500 pedagang.

“Semua jenis UMKM masuk, mulai kuliner, barang pecah belah, hingga aneka produk lainnya. Perputaran ekonomi tahun ini diperkirakan bisa menyentuh Rp500 juta–Rp600 juta,” jelasnya.

Selain menjadi penggerak ekonomi rakyat, Pemkot Semarang juga tengah memperjuangkan agar Festival Dugderan diakui sebagai Warisan Budaya Indonesia.

“Kalau ini menjadi warisan budaya, siapa pun wali kotanya wajib mengadakan Dugderan,” tegas Agustina.

Koordinasi lintas sektor antara Disdag, Dishub, Satpol PP, dan aparat keamanan telah disiapkan untuk mendukung rekayasa lalu lintas serta menjaga kebersihan kawasan selama festival. Acara akan ditutup dengan arak-arakan Dugderan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Kauman.